
Sebuah keajaiban? Apakah arti keajaiban? Tiba-tiba pertanyaan itu muncul begitu saja di benak Arinda. Gadis kecil yang polos itu.....
"Apa mimpimu suatu ketika?" tanya hatinya sendiri di sela kegelisahannya.
"Aku ingin berada di sebuah tempat, dimana aku tak lagi merasa sepi....," bisik Arinda seraya menatap sekeliling ruang rumahnya yang memang amat sepi. Bagaimana tidak sepi, Arinda hanya hidup berdua dengan ibunya yang sudah tua. Arinda sebenarnya bukan anak tunggal. Ia anak bungsu dari dua puluh bersaudara.
Sembilan belas saudaranya meninggal ketika masih usia batita dan balita. Entah kutuk apa, yang menimpa ibunya Arinda. Setiap anaknya berusia satu tahun, tiba-tiba sakit parah dan meninggal. Ibunya tak putus asa untuk segera hamil lagi, Tapi nasib anak kedua dan seterusnya bagai tertimpa naas yang tak berkesudahan. Lagi-lagi ketika berusia rata-rata di bawah tiga dan lima tahun sakit parah dan meninggal.
Ada yang terkena panas, muntaber, batuk, danlainsebagainya. Hingga tak terasa ibunya hamil anak yang kedua puluh. Arinda satu-satunya anak yang bertahan hidup. Namun kesialan pun tak juga berakhir, karena pada usia dua tahun, ayah Arinda harus wafat terkena sakit tipes. Jadilah Arinda anak yatim.
Satu-satunya teman Arinda hanyalah seekor kucing kecil dan sebuah boneka. Yang tiap hari diajaknya bicara dan bermain. Semua tetangga di kampungnya mengucilkannya, karena Arinda dianggap Arinda anak pembawa sial. Menurut orang kampung bahwa kematian sembilan belas saudaranya dan kematian ayahnya adalah bukti kesialannya.
Jadilah seorang Arinda yang terbiasa hidup sendiri. Kini Arinda sudah menjadi gadis kecil yang kepalanya selalu penuh obsesi. Obsesi ini membuat Arinda sering berbicara dengan bayangannya sendiri di depan cermin.
"Hai, Arinda? Kamu mulai cantik, ya?" ucapnya sendiri pada bayangan wajahnya di cermin. Kemudian ia tersenyum.
"Imoettt!" desisnya.
"Arinda....," panggil ibunya yang baru saja pulang dari pasar selesai berbelanja.
"Eh, ibu.....,"
Ibunya menggelengkan kepalanya...... Brakkkkk! Tiba-tiba sebuah suara benda terjatuh mengejutkan Arinda. Arinda segera menarik napas panjang. Ia seakan baru saja tersadar dari sebuah mimpi panjang.
"Kau, seperti sedang mengingat sesuatu?" Silvana duduk di sampingnya sambil membenahi map yang dibawanya.
"Aku kadang suka teringat terus masa kecilku, Sil!"
"Masa kecilmu? Kau menyesal karena kau terlahir sendirian?"
"Entahlah....," desah Arinda.
"Masa lalu.... Setiap orang dibentuk karena masa lalu, Rin!"
"Ya, masa laluku mungkin sebuah masa lalu yang paling mengerikan! Masa lalu yang penuh kesepian........"
"Jadi karena itu kau tidak pernah berniat menikah?"
"Aku takut menikah. Aku takut melahirkan anak-anak yang kemudian menyaksikan anakku meninggal di usia masih sangat kecil.......,"
"Arinda, kau pikir apa yang dialami ibuku akan kau alami juga?"
""Buktinya semua saudara dari bapak atau dari ibu mengucilkanku karena mereka mengnanggap bahwa aku adalah adalah sebuah kutukan....,"
"Kau ini kronis! Menuduh dirimu sendiri sebagai kutukan. Aku bersahabat denganmu sejak di sekolah dasar hingga SMP, SMA, kuliah, dan kerja bersama.... Aku tak mendapat kesialan apapun !!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar