Sejarah kemanusiaan akhirnya merekam dengan obyektif bahwa orang-orang yang ada di sekeliling Nabi Muhammad saw menjadi orang besar yang produktif. Al Qur’an kadang membahasakannya dengan rijâl sebagai ilustrasi peran tokoh (lihat QS. An-Nur : 37, QS. Al-Ahzab: 23) sesekali dibahasakan dengan khaira ummah/sebaik-baik umat (lihat QS. Âli Imrân: 110). Orang-orang ini bukan saja menjadi orang penting tapi mereka menjadi manusia yang benar-benar merasa dimanusiakan oleh Rasulullah saw. Tak heran bila kemudian mereka menjelma menjadi tokoh besar yang siap memimpin peradaban.
Lihat saja Abu Bakar ra. yang tegas meredam ancaman disintegrasi dan pengkhianatan internal. Umar bin Khattab ra. menjelajah dengan berbagai futuhât di depan berbagai imperium adidaya waktu itu. Usman ra sang entrepreneur sukses yang meneruskan perjuangan pendahulunya. Pun Sang Pintu Ilmu, Ali bin Abi Thalib ra juga mampu tetap eksis di tengah guncangan prahara dan fitnah.
Mereka dan juga orang-orang di sekeliling Nabi Muhammad saw menemukan potensi kebaikannya yang kemudian dioptimalkan dengan baik menjadi ledakan prestasi yang dahsyat. Prestasi yang menghusung ruh manfaat bagi sesama. Bila kita mencerna dengan teliti mereka, para sahabat ini lahir dan tumbuh di tengah masyarakat yang sangat tidak kondusif. Bahkan sebagian orang terlalu mendramatisirnya sehingga seolah tak ada secuil pun potensi kebaikan pada zaman itu.
Dari zaman itulah sang murabbi umat ini dilahirkan. Al-Amin yang kemudian ditugaskan sebagai nabi ini terus bersemangat untuk menyulut semangat kebaikan di tengah masyarakat yang sering dibahasakan dengan jahiliyah yang keterlaluan. Dan jerih payah ini tak sia-sia. Beberapa orang yang beriman dengan risalahnya kemudian menjadi pilar solid dakwah yang menjadi basis pengembangan Islam di kemudian hari di Madinah.
Dengan kegigihan dan kesabaran, Nabi Muhammad saw pun terus berharap akan lahir generasi yang beriman kepada risalah Allah yang keluar dari generasi yang saat itu menindas beliau bahkan memperlakukan beliau tidak seperti manusia; dicaci, dicerca, dilempari dengan apapun, disakiti fisik dan perasaannya. Namun, beliau sadar bahwa perbaikan sosial tidaklah seperti permainan sulap yang bisa menyenangkan penonton. Juga tidak seperti membangun sebuah bangunan. Karena yang sedang dibangun adalah bangunan mental, pembinaan pandangan hidup yang mengalami disorientasi tentang pemaknaan terhadap Tuhan. Sehingga dalam kondisi masyarakat yang seburuk apapun masih ada yang bisa diharapkan untuk dicari potensi kebaikannya. Sekecil apapun itu. Toh, bukit dan gunung pun terdiri dari butiran-butiran pasir dan kerikil yang kecil.
Hasilnya? Seperti yang kita lihat saat ini, juga bisa kita buka-buka lembaran-lembaran sejarah.
Dan kita –meski tidak sedang mengiaskan keadaan di atas- sudah selaiknya kita menelaah diri dalam skup mikro sekalipun. Terhadap kondisi sosial masyarakat kita. Masyarakat yang ada di sekeliling kita. Dengan kondisi apapun di sekeliling kita sudah selaiknya kita berpikir positif. Jika masyakat kita sudah baik, maka menjadi kewajiban kita untuk meningkatkan potensi kebaikan tersebut serta memaksimalkan sinergi peran tersebut. Jika dalam prakteknya kita menemukan sesuatu yang sebaliknya setidaknya kita perlu melakukan dua tindakan. Pertama, tindakan proteksi terhadap diri kita dengan meningkatkan imunitas keshalihan kita. Yang kedua, sebisa mungkin kita memperbaiki keadaan sesuai jangkauan kita. Orang-orang yang bisa kita ajak kerja sama untuk memperbaiki lingkungan menjadi terus lebih baik.
Di sinilah pentingnya arti tarbiyah. Pembinaan diri sebagaimana pembinaan yang dilakukan oleh Rasulullah saw terhadap para sahabatnya. Pembinaan yang berbasis multi dimensi, dimensi intelektual (dengan majelis-majelis ilmu), dimensi spiritual (dengan wejangan dan taushiyah serta dengan doa dan shalat), dimensi fisik (dengan latihan penguatan fisik dan implementasi jihad memproteksi dakwah ini), dimensi sosial (dengan menumbuhkan rasa persaudaraan, solidaritas, kerja sama dalam berbagai dan banyak hal). Selain itu juga dididik untuk teratur dan tertata dalam menyusun berbagai strategi dakwah. Peristiwa Hudaibiyah bisa diambil sampel kejelian siasat dakwah di tengah kecongkakan tokoh-tokoh antagonis dakwah ini.
Bila tarbiyah model seperti ini dilakukan oleh Nabi kita, mengapa tak kita coba aplikasikan? Dengan segala keterbatasan, sangat mungkin untuk membina berbagai potensi kebaikan yang ada pada diri kita untuk menumbuhkembangkan kemanfaatan di tengah masyarakat kita.
Dalam sekup mikro -di Mesir- bisa kita gunakan untuk ikut membantu mengurangi
Tidak ada komentar:
Posting Komentar