Kamis, 17 November 2011

Dewasa dengan Menertawai Diri Sendiri



Bangsa kita dikenal sebagai bangsa yang memiliki keramahan dan etika yang tinggi, sehingga menjadi nilai plus tersendiri. Menjunjung tinggi hak-hak setiap orang, ramah tamah, toleransi adalah menu setiap hari. Tidak ketinggalan sebagai bangsa pemaaf, sehingga setiap setahun sekali ada halal bihalal untuk melebur setiap kesalahan. Sebuah bangsa yang mulia dari setiap prinsip-prinsip kehidupan bermasyarkat dalam menciptakan kerukunan dan perdamaian.
Menjadi pertanyaan sekarang, mengapa banyak kerusuhan, tawuran antar kampung, bom ditempat ibadah hingga amuk masa.?. Dimana identitas sebagai masyarkat yang bersosial tinggi, toleransi, tenggang rasa, saling menghormati, kalau pada akhirnya berakhir dengan adu jotos atau tindak kekerasan yang lain. Sangat ironis sekali, sebagai bangsa yang dicap baik oleh dunia, tiba-tiba menjadi suku bar-bar yang beringas. Silaturahmi dan halal-bihalan seusai sholat Ied seolah seremonial tahunan yang menjadi rutinitas belaka. Tidak peduli mereka yang sudah tua, angkat senjata membela batas desa, atau anak-anak yang membentengi sekolahan, mahasiswa dengan gengsi almamater atau aparat dengan kesatuannya masing-masing. Apakah saat adegan mahabarata ada canda, tawa yang ada hanyalah kobaran amarah dan keberingasan.
Apa yang menyebabkan bangsa kita mudah di pecah, di adu domba hingga pancingan provokasi yang tersulut dan mudah meledak. Bangsa kita mungkin saat ini sebagai bangsa yang cemberut dan susah tertawa bagi dirinya sendiri, tetapi terbahak-bahak hingga kram rahang saat menertawakan orang lain. Bangsa kita sangat susah menertawai diri sendiri, sehingga mudah sekali tersulit provokasi. Nah apabila suruh menertawakan orang lain, seperti pemerintah, presiden, artis, tim nasional sangat mudah dengan tertawa lepas bahkan sejadi-jadinya. Mengapa begitu mudahnya menertawakan pihak lain, namun sangat susah berkaca lalu tertawa sendiri.
Menertawakan diri sendiri, berani melihat dan membongkar semua tindakan tolol, kebodohan, kesalahan dan dosa-dosa dengan cara yang menyenangkan. Koreksi diri secara humor, jauh lebih menyenangkan daripada duduk termenung dengan penyesalan berlarut-larut. Pengadilan diri secara jenaka, menjadikan seseorang melihat dengan cara yang dewasa namun tanpa meninggalkan makna kebenaran sejati. Apabila diri ini sudah bisa menertawakan diri sendiri, makan kendali emosi, kontrol logika akan mudah diarahkan, sehingga sebesar apapun sumbu provokasi langsung segera bisa dipadamkan.
Selera humor seolah oase di gurun pasir yang menyejukan masalah. Menyelesaikan masalah memang harus serius, tetapi setidaknya harus ada hujan es untuk mendinginkannya. Bagaima mantan Presiden Gus Dur menyikapi masalah, dengan humor yang kental namun tetap pada porsinya. Berapa banyak cibiran, stigma miring, hingga cacian namun Sang Presiden tetap berkata ”gitu aja kok repot”. Dengan jawaban singkat presiden tersebut membuktikan, beliau tidak mudah emosi, tidak mudah diprovokasi dan tetap memiliki ketegasan walau terkadangan slengekan.
Bagaimana dengan kita, terutama yang mudah tersinggung dan menjadikan hal-hal yang kecil seolah sebagai sesuatu yang besar. Untuk menjadi orang besar, harus bisa menanggapi segala sesuatu dengan tidak menjadi orang kecil, dengan tidak mengecilkan permasalahan dan tidak membesar-besarkan persoalan. Semua pada porsinya dan tidak lebih atau kurang. Menertawai diri sendiri, bukan perkara yang mudah, dimana kendali atas emosi dan logika harus tetap dipegang. Sebelum menertawakan orang, tertawalah buat diri sendiri agar menjadi manusia yang peka namun tidak sensi ”tersinggung”.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar