Selasa, 29 November 2011

ku Yang Pemarah


akhir-akhir ini, orang sering berkomentar terhadapku..  kata mereka aku berubah menjadi seorang pemarah. cuman masalah sepele saja, pasti marah. pikirku, memang inilah aku apa adanya. mungkin mereka saja yang belum tau sifatku atau aku saja yang selama ini menutup-nutupinya. aku memang gak suka di katakan seorang pemarah,  seharusnya mereka memandang permasalahan secara proporsional sehingga bisa menilai orang dengan kadar yang tepat. mana seorang pemarah, mana orang yang memang seharusnya marah.
beda-beda tipis sih, tetapi aku lebih suka seperti itu. sehingga orang akan lebih memahami orang lain. penyikapan persoalan terhadap seseorang yang marah dan yang memang seharusnya marah juga akan berbeda.

wallahu ‘alam.

Menata kembali, niat kita dalam berdakwah

Niat adalah hal fundamental bagi setiap Muslim ketika mengerjakan sesuatu. Segala sesuatunya sangat bergantung pada niatnya.Niat inilah yang akan membawa konsekuensi pada diterima atau tidaknya suatu ibadah yang kita lakukan  kepada Allah SWT Rasulullah SAW bersabda: ”Sesungguhnya perbuatan itu tergantung pada niatnya, seseorang itu akan memperoleh apa yang telah diniatkannya. Barang siapa hijrahnya itu karena Allah dan rasulnya, maka ia akan memperoleh pahala dan barang siapa hijrahnya itu karena harta atau wanita, maka ia akan memperoleh apa yang telah diniatkanya itu.”
Asal muasal hadits ini adalah ketika Rasulullah SAW berdakwah di negeri Mekah merasa sulit karena selalu  mendapatkan perlawanan hebat dari kaum Quraisy.Beliau akhirnya mendapat perintah untuk hijrah ke Yatsrib  (Madinah). Beliau pun memerintahkan para sahabat untuk berhijrah. Tapi para sahabat ternyata punya motivasi yang berbeda-beda dalam melakukan hijrah. Mulai dari sahabat yang ikhlas mencari keridhoan Allah SWT hingga alasan  wanita, harta, dan benda. Karena itu Rasulullah menginstruksikan kepada para sahabat untuk menata niat mereka  melalui hadits itu.

Ku Yakin Sampai disana


Di tengah banyak orang complain, kritik, tidak puas, kecewa dan protes atas kinerja 100 hari pemerintahan SBY yang dianggap gagal total, SBY dengan gembira bernyanyi “Ku Yakin Sampai di Sana”.
Saya tidak ingin ikut-ikutan membicarakan kinerja 100 hari pemerintahan SBY yang diwarnai drama century, perseteruan KPK-Polisi-Kejaksaan, mobil mewah para menteri, imajinasi pembunuhan atas dirinya dan pesawat kepresidenan. Karena saya yakin kita sudah bisa membedakan dengan jernih mana komitmen mana yang sekedar retorika, mana keseriusan dan ketulusan mana yang sekedar pencitraan.
Yang ingin saya bicarakan adalah judul lagu yang baru saja di launching SBY yang menurut saya menarik. Karena berisi semangat, keyakinan dan optimisme yang semestinya dimiliki oleh setiap orang yang ingin mencapai sesuatu yang diinginkan. Keyakinan adalah teman setia yang akan membawa kita pada suatu tempat yang kita cita-cita kan.


di penghujung malam, saat hujan masih membasahi bumi…


setelah rangkaian cerita  yang panjang hari ini… ku merenung. ternyata waktu berlalu begitu cepat, banyak hal yang belum kulakukan.teringat  pertanyaan yang pasti akan kujawab kelak…
“Man Robbuka?” … Siapakah Robbmu?
“Wa maa diinuka?” … dan apakah agamamu?
“Wa maa hadzaar rujululladzii bu’itsa fiikum?” … dan siapakah orang yang telah diutus di antara kalian ini?
Tiga pertanyaan inilah yang disebut dengan fitnah kubur. Oleh karena itu, tiga pertanyaan pokok ini merupakan masalah besar yang penting dan mendesak untuk diketahui. Wajib bagi setiap manusia untuk mengetahui, meyakini dan mengamalkan hal ini, baik secara lahir maupun bathin. Tidak seorang pun dapat beralasan untuk tidak mengetahui tiga hal tersebut dan tidak mempelajarinya. Bahkan ketiga hal ini harus dipelajari sebelum hal lain.

Emang Akhwat bisa jatuh cinta??


Wah, ngomongin tentang cinta. Akhwat?!Jatuh cinta?! Emang bisa?!
Woi, woi, akhwat juga manusia, akhwat juga bisa jatuh cinta, seakhwatnya akhwat juga punya rasa cinta, benci, suka, dll.
Nih, salah satu contoh percakapan dua orang akhwat:
Nayla: “ras, mau nanya donk!”
Laras: “nanya apa?!“
Nayla: “tapi, kamu jawab yang jujur ya!”
Laras: “iya, emang apa?”
Nayla: “kamu pernah jatuh cinta ga?”
Laras terdiam cukup lama. Sambil berjalan di gang yang tak begitu lebar, Laras menanyakan pada dirinya sendiri: ”Pernahkah aku jatuh cinta?”
Nayla yang berjalan di depan Laras memperlambat langkah agar mereka bisa berjalan sejajar dan Nayla menunggu jawaban dari Laras.
Laras: “iya, pasti-lah pernah!” (bohong, jika ada yang mengatakan tidak pernah jatuh cinta, pikir Laras)
Nayla: “sama ikhwan?! Baru-baru ini?! (Nayla hanya memastikan bahwa sahabatnya itu pernah jatuh cinta dengan ikhwan; akhwat jatuh cinta sama ikhwan!)
Laras: “emmm, mungkin lebih tepatnya kagum! Ya, kagum! Hanya sebatas itu.” (Laras mengoreksi jawabannya. Laras pikir selama ini rasa itu hanya sebatas rasa kagum, gak lebih)
Nayla: “yup! Lebih tepatnya kagum! Aku kira orang kayak kamu gak bisa jatuh cinta!”
Laras: “loh, kenapa kamu mikir kayak gitu?!”
Nayla: “ya, akhwat kayak kamu itu kayaknya gak mungkin punya perasaan apa-apa sama ikhwan, gak mungkin jatuh cinta. Kamu itu kalem, pendiem, berwibawa banget. Ya gak mungkin-lah.”
Laras: “Tapi, nyatanya, aku bisa kagum juga kan sama ikhwan?! Itu mah fitrah kali!”
Yup! Yang namanya kagum, apalagi kagum antar lawan jenis, hal itu mah wajar-wajar aja. Yang gak wajar itu, kalo rasa kagum yang ada pada diri kita malah membuat kita melakukan hal-hal yang gak sepantasnya dilakukan (apaan tuh?!), apalagi oleh ikhwan akhwat loh. Berat euy sandangan ikhwan akhwat itu. Yang ada di pikiran kebanyakan orang nih, yang namanya ikhwan akhwat itu gak nganut yang namanya pacaran. Ikhwan akhwat lebih nganut system ta’aruf sebelum nikah. Gaya pacaran ikhwan akhwat, ya setelah mereka nikah nanti.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar